Free Opinion

Pendidikan di Tengah Pandemi Covid-19

Nama : Thetania Dhea Praminto

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

 

      Pada saat ini dunia sedang mengalami tantangan besar karena pandemi covid-19 yang semakin menyebar di seluruh dunia.Indonesia termasuk negara yang mengalami pandemi covid-19 , saat ini juga mengalami tantangan besar dalam menghadapi pandemi covid-19 sehingga pemerintah menerapkan phsysical distancing (jaga jarak) terhadap masyarakat untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19.

      Pemerintah menerapkan Work From Home atau bekerja di rumah , tidak hanya bekerja saja yang dilakukan dirumah beribadah dan belajar juga dilakukan dirumah.Pandemi covid-19 juga berdampak terhadap dunia pendidikan, himbauan melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara daring / online yang merupakan keputusan yang mendadak dan menimbulkan pro kontra dikalangan pelajar di Indonesia.Bahkan dampak dari pandemi covid-19 ini membuat ujian nasional tahun ini ditiadakan.Pro kontra yang terjadi dikalangan pelajar Indonesia diantaranya kegiatan belajar mengajar dilakukan via online banyak dikeluhkan pelajar karena memakan banyak kuota internet belum lagi jika sehari mereka ada beberapa kelas online.Bukan hanya masalah kuota saja , yang seharusnya kegiatan belajar dialihkan secara online malah digantikan dengan tugas yang menyebabkan beban tugas di setiap harinya menumpuk.

      Proses kegiatan pembelajaran, sebagian besar pelaksanaan pembelajaran hanya melalui penugasan. Hasil survey dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang dikutip dari koran Pikiran Rakyat hari Selasa 28 April 2020 dari sebanyak 1700 responden, sebanyak 20,1% responden menyebutkan terdapat interaksi dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ). Dari 20,1% responden menyebutkan interaksi dalam PJJ, sebanyak 87,2% menyebutkan bahwa interaksi berlangsung melalui chatting. Kemudian 20% menyebutkan interaksi menggunakan aplikasi Zoom Meeting, 7,6% menggunakan aplikasi video call WhatsApp dan 5,2% menggunakan telepon untuk langsung berbicara dengan guru. Sementara itu, bagi responden yang menyebut tidak ada interaksi, sebagian besarnya mengeluhkan tentang tugas yang berat dari sekolah (73,2%). Hanya 26% responden yang tidak merasakan tugas yang diberikan itu berat.

      Pro kontra yang lainnya yaitu pembayaran UKT yang tidak ada keringanan sedangkan para pelajar sedang tidak menggunakan fasilitas kampus dan pelajar meminta kuota gratis agar bisa mengikuti kegiatan pembelajaran secara efektif.Belum lagi jika ada pelajar yang tinggal di daerah pelosok dan fasilitas di daerahnya belum memadai seperti ketersediaan listrik, kualitas jaringan internet.

      Terlepas dari pro kontra yang dialami para pelajar dengan adanya  kebijakan kegiatan belajar yang dilakukan via online ini dapat memutus mata rantai penyebaran covid-19 di Indonesia.Dan pro kontra yang terjadi di kalangan pelajar dalam kegiatan belajar via online dapat dijadikan alat ukur agar pemerintahan/ kementrian pendidikan memperbaiki sistem pendidikan secara online dan mempersiapkan sistem pendidikan apabila terjadi situasi yang mendadak.